banner 728x250
Bisnis  

Dari Bibit hingga Panen, Petani Sawit OKU Didorong Naik Kelas

Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit bagi ratusan pekebun asal Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) di Hotel Beston, Palembang, 29 September hingga 4 Oktober 2026.

PALEMBANG, ORIENTALNEWS — Perjalanan menuju kebun kelapa sawit yang produktif ternyata tidak dimulai ketika tanaman mulai berbuah. Fondasinya justru ditentukan sejak pekebun memilih benih yang akan ditanam. Karena itu, penggunaan bibit unggul dan bersertifikat menjadi salah satu materi penting yang ditekankan dalam Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit bagi ratusan pekebun asal Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU).

Direktur IPB Training, Muhammad Sigit Susanto, M.M., CPC, mengatakan pekebun perlu lebih cermat dalam memilih material tanam. Bibit dengan asal-usul yang jelas dan telah tersertifikasi memberikan dasar yang lebih baik untuk membangun kebun produktif.

“Petani mestinya memilih bibit yang tersertifikasi. Bibit unggul produktivitasnya sudah diteliti di laboratorium dan dibuktikan di lapangan,” ujar Sigit saat memberikan materi kepada 176 pekebun OKU Angkatan 30 hingga 35 di Hotel Beston, Palembang, 29 September hingga 4 Oktober 2026.

Pelatihan tersebut merupakan hasil kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training.

Menurut Sigit, kesalahan dalam menentukan bibit dapat memberikan dampak panjang terhadap pengelolaan kebun. Penggunaan bibit yang tidak jelas asal-usulnya berisiko membuat produktivitas tanaman tidak optimal serta meningkatkan persoalan dalam budidaya, termasuk hama dan penyakit.

Sebaliknya, penggunaan benih berkualitas dapat menjadi investasi jangka panjang bagi pekebun. “Kalau panennya lebih baik, kualitas hasilnya lebih baik. Secara tidak langsung kesejahteraan petani juga bisa meningkat,” katanya.

Namun, bibit unggul bukan satu-satunya faktor penentu. Sigit mengingatkan pekebun agar memahami pengelolaan tanaman secara menyeluruh, mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit hingga panen.

Menurutnya, seluruh tahapan tersebut harus dilakukan dengan prinsip budidaya yang tepat agar potensi produksi tanaman dapat dimaksimalkan. Kabupaten OKU memiliki sekitar 72,9 ribu hektare perkebunan kelapa sawit. Sebagian besar merupakan perkebunan rakyat.

Luas areal tersebut menjadi modal besar bagi daerah untuk meningkatkan produksi. Namun, peningkatan produktivitas tidak cukup hanya dengan mengandalkan luas lahan. Peningkatan kemampuan pekebun menjadi bagian penting untuk memastikan setiap hektare kebun mampu memberikan hasil yang optimal.

Sekretaris Dinas Pertanian OKU, Ir. Hendri Eka Putra, S.P., M.Si., IPM, mengatakan pelatihan bagi pekebun OKU telah dilakukan dalam tiga gelombang, yakni pada awal Agustus, akhir Agustus dan akhir September. Total peserta yang telah mengikuti rangkaian pelatihan mencapai 451 pekebun. “Harapannya dengan dibekali ilmu, budidayanya lebih bagus, penanganan hasilnya lebih bagus, dan yang pasti produktivitasnya meningkat,” kata Hendri.

Sawit Jadi Pilihan Pekebun

Potensi perkebunan sawit OKU juga semakin relevan di tengah kondisi harga sawit yang dinilai relatif baik. Kondisi tersebut turut mendorong sebagian pekebun karet untuk beralih atau mengembangkan usaha ke komoditas kelapa sawit.

Dengan bertambahnya perhatian terhadap komoditas tersebut, peningkatan produktivitas menjadi tantangan yang harus diikuti dengan perbaikan kualitas budidaya.

Dalam pelatihan, pekebun juga didorong memilih benih dari sumber yang jelas dan tersertifikasi, termasuk sumber benih seperti Sembawa.

Penerapan budidaya yang tepat disebut dapat mendukung pencapaian produktivitas sekitar 2 ton per hektare per bulan.

Target tersebut tentu membutuhkan dukungan dari berbagai sisi, mulai dari kualitas bahan tanam, pemeliharaan tanaman hingga pengelolaan panen.

Pada akhirnya, keberhasilan kebun sawit rakyat tidak hanya diukur dari seberapa luas tanaman yang dimiliki, tetapi juga dari seberapa produktif kebun tersebut menghasilkan dan seberapa lama mampu menjadi sumber pendapatan bagi keluarga pekebun.

Melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan, pekebun OKU diharapkan mampu mengelola kebun secara lebih baik, meningkatkan kualitas hasil serta menjaga keberlanjutan perkebunan sawit rakyat untuk jangka panjang.

 

Writer: ArdiEditor: Ardi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *