ORIENTALNEWS– Perayaan Tahun Baru Imlek biasanya, kesibukan masyarakat Tionghoa meningkat drastis. Tidak hanya berburu pernak-pernik bernuansa merah dan emas, berburu bahan makanan spesifik juga menjadi agenda wajib. Salah satu menu utama yang paling dicari dan tidak boleh absen di meja makan adalah ikan bandeng. Bagi masyarakat Tionghoa, keberadaan ikan bandeng bukan sekadar pemuas selera, melainkan memiliki makna spiritual dan kultural yang mendalam.
Simbol Kemakmuran dan Persembahan untuk Dewa
Humas Tridarma Komda Sumsel, Harun, menjelaskan bahwa ikan bandeng memegang peranan penting dalam ritual perayaan. Dalam tradisi Tionghoa, ikan ini digunakan sebagai bagian dari Sam Seng (tiga jenis daging) yang disajikan sebagai persembahan kepada para dewa. Ada satu syarat tidak tertulis dalam memilih ikan ini: ukurannya harus besar. “Ikan bandengnya harus yang besar karena melambangkan kemakmuran yang melimpah,” ujar Harun saat diwawancarai beberapa waktu lalu.
Tradisi Pengikat Hubungan Menantu dan Mertua
Selain aspek religius, ikan bandeng juga membawa fungsi sosial yang unik dalam tatanan keluarga, khususnya hubungan antara menantu dan mertua. Ada tradisi di mana seorang menantu wajib menghantarkan ikan bandeng kepada mertuanya menjelang Imlek.
Ukuran bandeng yang dibawa konon menjadi tolok ukur tersendiri:
Ukuran Besar: Semakin besar ikan bandeng yang diberikan, semakin tinggi pula rasa hormat dan penilaian positif yang didapatkan dalam tatanan keluarga besar.
Ajang Ambil Hati: Tradisi ini kerap menjadi momen pembuktian bakti. “Ya, bisa jadi merupakan gengsi atau ajang untuk mengambil hati sang mertua,” tambah Harun sembari tersenyum.
Dengan perpaduan nilai tradisi, makna filosofis kemakmuran, dan perekat hubungan keluarga, tak heran jika pasar-pasar tradisional hingga swalayan selalu diserbu warga yang mencari ikan bandeng berukuran jumbo setiap kali musim Imlek tiba.













