banner 728x250

Cetya Anton Wijaya Palembang Gelar Sembahyang Kue Bulan 2026

Perayaan Sembahyang Kue Bulan yang diselenggarakan oleh Cetya Anton Wijaya di Jalan Puncak Sekuning, Palembang, pada Jumat, 25 September 2026, berlangsung dengan khidmat dan meriah.

Cetya, Anton Wijaya Palembang, Gelar Sembahyang Kue Bulan 2026

PALEMBANG, ORIEANTALNEWS — Perayaan Sembahyang Kue Bulan yang diselenggarakan oleh Cetya Anton Wijaya di Jalan Puncak Sekuning, Palembang, pada Jumat, 25 September 2026, berlangsung dengan khidmat dan meriah. Acara yang dipadati oleh ratusan tamu undangan ini tidak hanya menjadi ajang ritual keagamaan, tetapi juga momen istimewa untuk merayakan tradisi sarat makna dan mempererat tali persaudaraan.

Mengenal Tradisi dan Makna Kue Bulan
Sembahyang Kue Bulan (Tiong Cu Jie atau Festival Pertengahan Musim Gugur) merupakan salah satu perayaan penting dalam tradisi Tionghoa yang dirayakan setiap tahunnya. Inti dari perayaan ini adalah ungkapan rasa syukur atas hasil panen sekaligus momen penting untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat tercinta.
Simbol utama dari perayaan ini tentu saja adalah kue bulan itu sendiri. Bentuknya yang bundar sempurna melambangkan kebulatan, keutuhan, serta keharmonisan keluarga. Ketika kue bulan dipotong dan dibagikan kepada para jemaat serta tamu undangan yang hadir, hal ini merefleksikan nilai kebersamaan, persatuan, dan kerukunan hidup bermasyarakat. Melalui hidangan ini, setiap orang yang hadir diingatkan akan pentingnya menjaga keutuhan ikatan kekeluargaan dan persaudaraan.

Rangkaian Acara Penuh Kekhidmatan
Pemilik Cetya, Anton Wijaya, menyampaikan rasa syukur yang mendalam serta apresiasi setinggi-tingginya atas kelancaran seluruh rangkaian acara. Menurutnya, kehadiran para tokoh masyarakat serta dedikasi luar biasa dari jajaran panitia menjadi kunci utama suksesnya kegiatan ini dalam mempererat tali silaturahmi antar-jemaat.
“Kehadiran para tokoh masyarakat dan kerja keras panitia sangat luar biasa dalam menyukseskan perayaan tahun ini untuk mempererat tali persaudaraan antar-jemaat,” ujar Anton Wijaya di sela-sela acara.
Rangkaian perayaan malam itu diawali dengan Sembahyang Liamking yang dipimpin oleh Romo Alamsyah tepat pukul 19.00 WIB. Acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi Sembahyang Kue Bulan yang diikuti oleh seluruh jemaat dengan penuh khidmat.
Sebagai penutup rangkaian acara, para tamu undangan dan jemaat dijamu dengan santap malam bersama yang sederhana namun hangat. Suasana keakraban tampak jelas saat para tamu menikmati hidangan penutup berupa kue bulan bersama-sama, menyempurnakan makna keharmonisan dari perayaan Festival Pertengahan Musim Gugur tahun ini.

Writer: ArdiEditor: Ardi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *